Home » Uncategorized » Pembatasan Waralaba Digedok Desember 2012
Master tukang, tutorial pertukangan

Pembatasan Waralaba Digedok Desember 2012

Pembatasan Waralaba Digedok Desember 2012. Kementerian Perdagangan berencana membatasi kepemilikan waralaba rumah makan (restoran) dan rumah minum (kafe). Salah satu sasarannya adalah perusahaan penerima merek (franchise) waralaba restoran dan kafe asing.

Aturan tentang pembatasan waralaba ini sedang digodok, dan jika tidak ada aral melintang beleid itu akan terbit Desember mendatang dalam bentuk Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag).

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Gunaryo menjelaskan, aturan pembatasan waralaba ini bertujuan melibatkan semua kalangan. Karena prinsip waralaba adalah melibatkan pihak lain untuk memperluas jaringan bisnisnya.

Selain soal kepemilikan, juga akan diatur tentang kewajiban waralaba restoran dan kafe asing memakai kandungan lokal maksimal 80% dari total bahan baku yang dipakai. Gunaryo menjamin, kebijakan ini tidak akan menghambat investasi asing di bisnis waralaba.

“Investasi yang kita terima adalah yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” tegasnya. Sambutan positif datang dari Levita Supit, Ketua Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia. Menurutnya pembatasan waralaba kepemilikan akan mencegah terjadinya monopoli oleh satu perusahaan besar sekaligus membuka peluang bagi siapa pun untuk menikmati keuntungan dari bisnis waralaba restoran atau kafe asing. “Istilahnya bisa menyamaratakan rezeki dalam berbisnis,” kata Levita.

Baca:  Samsat Polres Tuban cetak lebih dari 20 ribu STNK tunggakan

Namun, pertanyaan bakal muncul. Sebab, pembatasan waralaba resto hanya ada di Indonesia. Makanya, dia meminta pemerintah tidak membatasi jumlah gerai seperti toko modern agar gairah bisnis waralaba restoran atau kafe asing di Indonesia tetap terjaga.

Keberatan datang dari perusahaan pemegang waralaba asing. Beleid ini dinilai bakal mengusik pengembangan usaha mereka di Indonesia. Justinus
D. Juwono, Direktur PT Fastfood Indonesia Tbk, pemegang tunggal merek waralaba restoran cepat saji asal Amerika Serikat, Kentucky Fried Chicken (KFC), mengatakan pihaknya akan kesulitan menerapkan aturan pembatasan waralaba ini.

Pasalnya, PT Fastfood Indonesia sebagai pemegang merek terikat larangan untuk tidak mewaralabakan merek yang menjadi haknya. “Sebagai pemegang franchise sebetulnya keberatan karena banyak prosedur dan larangan yang tidak boleh kita waralabakan dari sisi principal. Jadi, bagaimana harus melakukan pembatasan waralaba, kami enggak mengerti nih,” keluh Justinus.

Baca:  Indonesia Hijab Fest 2013 di Surabaya Targetkan Transaksi 1 Miliar

Masalah wewenang ini telah disampaikan ke Lapangan Banteng. Sebagai solusi, perusahaan milik Gelael group yang telah mengoperasikan KFC sejak Oktober 1979 ini, meminta pemerintah membuat kebijakan yang memperkuat kerja sama restoran dengan usaha kecil menengah (UKM) untuk memasok bahan baku.

Hal ini sudah dilakukan KFC, yang menjalin kerja sama dengan sejumlah UKM peternakan ayam untuk memasok kebutuhan daging. Namun, saran tersebut tampaknya lalu bersama angin. Pemerintah tetap akan menerapkan kebijakan pembatasan waralaba itu. Bahkan, kabarnya pemerintah akan membatasi gerai restoran antara 150 atau 200 saja.

Lebih dari itu kudu diwaralabakan. Meski terdampak, Justinus memastikan pembatasan waralaba ini tidak akan membuat KFC angkat kaki dari Indonesia. “Kita menunggu aturannya seperti apa dan akan mencoba menyesuaikan sebisa mungkin,” tuturnya.

PT Fastfood Indonesia memperoleh hak waralaba KFC dari Yum! Restaurants International, sebuah badan usaha milik Yum! Brands Inc., perusahaan asal Amerika Serikat. Kini, Fastfood Indonesia mengoperasikan sekitar 430 gerai KFC di seluruh Indonesia.

Baca:  Uang 30 Juta Kompensasi PSK Gude Tidak Diambil

Selain KFC, dampak kebijakan ini juga dirasakan Starbucks Indonesia yang hak tunggalnya dipegang PT Sari Coffee Indonesia, anak usaha PT Mitra Adiperkasa Tbk (PT MAP).

Saat ini, MAP mengoperasikan sekitar 120 gerai Starbucks di seluruh Indonesia, dan berencana akan menambah 30 gerai lagi sampai akhir 2012. MAP sedang mengkaji dampak pembatasan ini terhadap kinerja unit usaha mereka di sektor food and beverage (F&B) atau restoran dan kafe.

Namun dipastikan kinerja MAP secara keseluruhan tidak akan terganggu. Pasalnya kontribusi unit usaha restoran dan kafe, relatif kecil ketimbang usaha intinya yakni di usaha retail.

“ pembatasan waralaba Ini tidak akan berdampak signifikan pada bisnis Mitra Adiperkasa karena portofolio kami yang well diversified,” ujar Fetty Kwartati, Sekretaris Perusahaan Mitra Adiperkasa. Selain Starbucks, Mitra Adiperkasa juga mempunyai unit usaha restoran dan kafe seperti Burger King, Domino’s Pizza, Chatterbox, Cold Stone Creamery dan Pizza Marzano. Jadi pasang kuda-kuda Bung? (HANS /AMI/DETIK/BISNIS )

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *