Home » Tips Kesehatan » Penyakit dan Pengobatan » Waspada! Albothyl Dilarang Beredar dan Digunakan, Ini Efek Sampingnya!
albothyl dilarang beredar

Waspada! Albothyl Dilarang Beredar dan Digunakan, Ini Efek Sampingnya!

Waspada! Albothyl Dilarang Beredar dan Digunakan, Ini Efek Sampingnya!. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyampaikan penjelasan resmi terkait obat sariawan Albothyl. Obat yang mengandung policresulen itu memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan untuk menyembuhkan sariawan.

PRODUK Albothyl tengah meresahkan masyarakat. Karena mengandung bahan berbahaya berupa policresulen yang ditengarai bukan untuk obat sariawan, melainkan obat untuk daerah organ intim.

BPOM RI telah mengeluarkan surat edaran yang menyatakan bahwa obat luar tersebut tidak boleh dipergunakan untuk mengatasi sariawan. Selama ini masyarakat mengenal obat tersebut bisa dipakai untuk mengatasi sariawan dengan waktu yang kilat.

Berdasarkan hasil Rapat Pengkajian Aspek Keamanan Pasca Pemasaran, dalam Albothyl terdapat kandungan policresulen sebesar 36%. Kandungan itu tidak disetujui oleh para ahli ketika digunakan sebagai obat dalam.

Sayangnya, masyarakat selama ini menggunakan obat tersebut untuk mengatasi sariawan. Bila ditelisik, sebenarnya PT Pharos yang bersalah karena mengiklankan obat tersebut untuk mengatasi sariawan di stasiun televisi.

Melalui situs pom.go.id, BPOM menerbitkan penjelasan terkait isu keamanan obat mengandung policresulen cairan obat luar konsentrat. Berikut isi penjelasan tersebut.

Sehubungan dengan adanya informasi mengenai isu keamanan Albothyl, BPOM RI menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

1. Albothyl merupakan obat bebas terbatas berupa cairan obat luar yang mengandung policresulen konsentrat dan digunakan untuk hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan, serta penggunaan pada kulit, telinga, hidung, tenggorokan (THT), sariawan, gigi dan vaginal (ginekologi).

2. BPOM RI secara rutin melakukan pengawasan keamanan obat beredar di Indonesia melalui sistem farmakovigilans untuk memastikan bahwa obat beredar tetap memenuhi persyaratan keamanan, kemanfaatan dan mutu.

3. Terkait pemantauan Albothyl, dalam 2 tahun terakhir BPOM RI menerima 38 laporan dari profesional kesehatan yang menerima pasien dengan keluhan efek samping obat Albothyl untuk pengobatan sariawan, di antaranya efek samping serius yaitu sariawan yang membesar dan berlubang hingga menyebabkan infeksi (noma like lession).

4. BPOM RI bersama ahli farmakologi dari universitas dan klinisi dari asosiasi profesi terkait telah melakukan pengkajian aspek keamanan obat yang mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat dan diputuskan tidak boleh digunakan sebagai hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan serta penggunaan pada kulit (dermatologi); telinga, hidung dan tenggorokan (THT); sariawan (stomatitis aftosa); dan gigi (odontologi).

5. BPOM RI membekukan izin edar Albothyl dalam bentuk cairan obat luar konsentrat hingga perbaikan indikasi yang diajukan disetujui. Untuk produk sejenis akan diberlakukan hal yang sama.

6. Selanjutnya kepada PT. Pharos Indonesia (produsen Albothyl) dan industri farmasi lain yang memegang izin edar obat mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat diperintahkan untuk menarik obat dari peredaran selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Pembekuan Izin Edar.

7. BPOM RI mengimbau profesional kesehatan dan masyarakat menghentikan penggunaan obat tersebut.

8. Bagi masyarakat yang terbiasa menggunakan obat ini untuk mengatasi sariawan, dapat menggunakan obat pilihan lain yang mengandung benzydamine HCl, povidone iodine 1%, atau kombinasi dequalinium chloride dan vitamin C. Bila sakit berlanjut, masyarakat agar berkonsultasi dengan dokter atau apoteker di sarana pelayanan kesehatan terdekat.

9. Bagi profesional kesehatan yang menerima keluhan dari masyarakat terkait efek samping penggunaan obat dengan kandungan policresulen atau penggunaan obat lainnya, dapat melaporkan kepada BPOM RI melalui website: www.e-meso.pom.go.id.

10. BPOM RI mengajak masyarakat untuk selalu membaca informasi yang terdapat pada kemasan obat sebelum digunakan, dan menyimpan obat tersebut dengan benar sesuai yang tertera pada kemasan. Ingat selalu CEK KLIK (Cek Kemasan, informasi pada Label, Izin Edar, Kedaluwarsa). Masyarakat dihimbau untuk tidak mudah terprovokasi isu-isu terkait obat dan makanan yang beredar melalui media sosial.

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi contact center HALO BPOM di nomor telepon 1-500-533, SMS 0-8121-9999-533, e-mail [email protected], atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.

Di pihak lain, Director of Corporate Communications PT Pharos Indonesia Ida Nurtika mengatakan, pihaknya masih berkoodinasi dan berkomunikasi dengan BPOM. Dalam waktu dekat, Pharos juga akan menyampaikan informasi resmi kepada masyarakat.

“Saat ini kami masih terus mengumpulkan informasi dan data terkait produk Albothyl,” kata Ida kepada CNNIndonesia.com, Kamis (15/2).

Selain Albothyl, Berikut daftar produk obat mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat.

1. Albothyl, pendaftar PT. Pharos Indonesia lisensi dari Nycomed GmbH, Jerman, produsen PT. Pharos Indonesia

2. Medisio pendaftar PT. Faratu Indonesia, produsen PT. Pharos Indonesia

3. Prescotide, pendaftar PT. Novel Pharmaceutical Laboratories, produsen PT. Novel Pharmaceutical Laboratories

4. Aptil, pendaftar PT. Pratapa Nirmala, produsen PT. Pratapa Nirmala

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *